Berangkat dari sebuah refleksi
mengenai Spiral of Silence Theory atau Teori Spiral Keheningan, aku tidak akan
bungkam, atau pura-pura bungkam
“….kaum minoritas terkadang tidak
mau atau tidak berani bersuara karena takut dikucilkan oleh sang mayoritas”-penjelasan
singkat dosen teori komunikasi
Tersenyum, menggelengkan kepala
Reaksi awalku pada waktu itu
Haruskah aku, kami, kita, mereka,
bungkam ?
Haruskah aku, kami, kita, mereka,
diam dalam ketertindasan ?
Jawaban, TIDAK !
Tindakan, TIDAK ?
Lalu apa yang ditakutkan ?
Pengucilan ?
Ancaman ?
Ter-intimidasi ?
Kekerasan fisik ?
Kebanyakan,
dan pada kenyataannya, iya
Buatku,
akan lebih menyedihkan bila harus hidup
dalam kepura-puraan arus mayor,
dan akan lebih melegakan ketika
harus “mati” dalam kesejatian sebuah idealisme.
Abstrak
aku-pun terkadang tidak tahu apa
yang aku bicarakan
hahaha
“ketika ada 9 orang gila dan 1 orang
waras, maka 1 orang waras itu-lah yang akan dianggap sebagai orang gila” – anonim
maukah seseorang dianggap sebagai
orang gila ?
Idealnya,
AKU MAU !
Realitanya ?
Aku hanya menghanyut dalam arus
mayoritas, kalau mau di bilang pembelaan, silahkan
hahaha
Nyatanya,
Aku hanyut, namun tetap mendayung,
sedikit demi sedikit, mencoba
mengajak orang lain ikut mendayung
“hasil
yang maksimal adalah hasil dari sebuah usaha yang dilakukan tanpa keterpaksaan”
– anonim
Tergerak
dari obrolanku dengan seorang teman di balkon kampus dan obrolan di bangku SMA
dengan seorang calon filsuf, aku merasa harus mengungkapkan sesuatu, sesuatu
yang miris, prihatin.
Kesadaran,
dorongan dari dalam, atau apapun itu sebutannya, masihkah manusia memiliki itu
? Atau, kesadaran itu sudah memudar dari dalam diri manusia ?
“Pendidikan,
sebuah sistem penggerak bagi manusia guna menciptakan manusia-manusia yang
berpendidikan. Penuh paksaan, penuh tekanan, guna mendapatkan hasil yang
cenderung, instan”. – persepsi pribadi
Bukan
apa-apa, subyektif, dunia ini membutuhkan manusia-manusia yang “cerdas”, tidak
melulu “pintar”.
Lalu,
dimanakah keingin-tahuan itu ? Sebuah kata yang seharusnya menjadi gairah dan
esensi dari sebuah pendidikan yang sebenarnya. Berangkat dari keingin-tahuan,
maka muncul-lah kesadaran dan dorongan dari dalam guna memperoleh ilmu
pengetahuan, tanpa adanya sistem yang harus membatasi ruang pemikiran manusia.
Positif thinking
“Pendidikan adalah sistem yang
bertujuan untuk men-stimulus rasa keingin-tahuan manusia terhadap segala macam
pengetahuan”
Membangun
kesadaran akan keingin-tahuan, atau tetap terdikte dengan sistem tanpa mau
melihat keluar
“jangan dekat-dekat sama orang
yang lagi ngrokok atau mabuk”, sebuah petuah dari eyang putri ketika aku masih
duduk di bangku sekolah dasar.
Sebuah pertanyaan yang
menggantung ketika pernyataan itu keluar dari mulut wantia yang mengurusku selama
18 tahun. Apakah orang yang merokok dan minum minuaman keras itu mencerminkan
bahwa orang itu “negatif” ?
Negatif
Identik dengan sebuah perilaku,
sifat, sikap, atau kebiasaan yang buruk, mungkin lebih tepatnya “dianggap”
buruk. Mutlakkah hal itu ? Ataukah masih bisa diperdebatkan ? Contoh kecil: Merokok,
sebagian besar orang yang tidak merokok menganggap merokok adalah sebuah kebiasaan
yang negatif. Argumennya, sesuai yang dipaparkan pada kata-kata yang terdapat
pada bungkus rokok, “merokok dapat menyebabkan kanker, blablablablablabla…………”.
Oke, back to the point, lalu
bagaimana jika orang merokok dan ia mendapat berbagai macam inspirasi, atau
bagaimana jika merokok bisa merekatkan sebuah persahabatan atau persaudaraan,
masihkah negatif ?
Positif
Identik dengan sebuah perilaku,
sifat, sikap, atau kebiasaan yang baik, mungkin lebih tepatnya “dianggap” baik.
Akankah selalu atau benar-benar baik ? Lagi, sebuah contoh kecil: Membela agama,
banyak orang yang rela berjuang demi membela agama mereka masing-masing. Oke,
pada dasarnya setiap agama itu baik, no
doubt, right ? Dan membela dan berjuang untuk agama tertentu juga tidak
dapat dipersalahkan. Terlepas dari perdebatan mengenai filosofi masing-masing
agama, apakah perselisihan antar agama dengan “modus” membela agama yang mereka
percayai itu masih layak dilakukan ? Toh,
pada dasarnya setiap agama baik dan “dia”
yang satu dan disebut dalam berbagai
macam nama menginginkan keharmonisan dalam berbebagai keberagaman, right ? Lagi, sebuah pertanyaan
reflektif, masihkah hal itu di katakan mutlak sebagai hal yang positif ?
Lalu apa ?
Positif-negatif, baik-buruk,
hanyalah sebuah konstruksi, bentukan, buatan manusia. Konstruksi yang dibuat
(mungkin) untuk membuat kita semakin skeptis, kritis, dan tentu saja reflektif
melihat fenomena yang ada. Men-judge
sebuah fenomena dengan hanya melihat positif dan negatif dari fenomena tersebut
(mungkin) bukanlah hal yang bijak. Namun alangkah lebih tepat bila kita
mengkritisi sebuah fenomena secara argumentatif demi menghindari judgement yang terlalu normatif. Nggak
ada salahnya kan ?
Karena
dari hal sekecil apapun, inspirasi itu hadir, selamat menikmati
“Tuhan, yang satu, yang transenden(re: di luar segala kesanggupan manusia;
luar biasa; utama), Engkau yang disebut dalam berbagai
nama, aku sebagai temanmu, “kancamu” (re: temanmu), “sedulurmu” (re: saudaramu),
ingin mengungkapkan keresahanku……” – kutipan curhatanku tadi malam
*Dab (re: panggilan akrabku
untuk Tuhan), sebenarnya mengapa kamu membiarkan dirimu disebut dalam berbagai
nama ? Kenapa kamu harus menginspirasi manusia untuk menciptakan sebuah “tembok
pemisah” yang disebut sebagai agama ?
*keresahan
yang kian memuncak*
Dab, aku
khawatir dengan segala konstruksi-konstruksi buatan ini yang makin lama makin
memperjauh jarakku denganmu. Aku khawatir dengan segala perbedaan yang
seharusnya bisa berjalan beriringan menuju-mu yang transenden, namun pada kenyataannya…………kami
semakin menjauh dengan pertikaian yang mengatas namakan segala konstruksi buatan
itu……
*asap
rokok bak kabut pegunungan mulai mengepul deras*
Kamu adalah sedulurku yang paling tidak aku mengerti
jalan pikirannya. Sampai kapan kami harus bertikai ? Sampai kapan konflik
berdarah antara kami harus terjadi ? Atau……………sebenarnya kamu yang mendesain
konflik ini untuk membuka pikiran kami tentangmu, wahai sedulur sangarku………
Ketika kamu sudah bosan
dengan berbagai macam pertanyaan, pujian, permohonan, dan permintaan maaf…………………
Tak
enteni neng burjo palm kuning jam 9 bengi. Sopo ngerti awake dewe iso ngobrol
jero...... Sak udutan rong udutan yo rapopo………. (re: aku tunggu di burjo palm
kuning jam 9 malam. Siapa tahu kita bisa membicarakan sesuatu hal yang
mendalam. Satu atau dua rokok-an juga tidak apa)
Aku
menemukan siapa aku, kami menemukan siapa kami, kita menemukan siapa kita. Aku
mengutarakan persepsiku, kami mengutarakan persepsi kami, kita mengutarakan
persepsi kita, masing-masing. Kami homogen, dengan berbagai pemikiran
heterogen.
Berawal
dari sebatang rokok……
Bukan
karena kantong kami yang pas-pasan dan tidak mampu membeli sebungkus rokok,
walaupun memang pas-pasan. Bukan juga karena kami yang terlalu pelit. Ini untuk
kami, atau siapapun, yang memegang teguh sebuah “paseduluran” atau “persaudaraan”.
Kami tidak sedarah, tidak dari orang tua yang sama, atau memiliki ikatan
persaudaraan biologis. Ini sebuah ikatan, ikatan yang kami sendiri pun tidak
bisa mendefinisikan ikatan ini. Erat, sangat erat. Kami berasal dari daerah
yang berbeda-beda, suku yang berbeda-beda, “TUHAN” yang berbeda-beda, namun………kami
pernah berada dalam sebuah “kolam” terbaik yang pernah kami temui sepanjang
hidup kami. Tidak akan pernah kami lupakan, dan itu hidup di dalam setiap dari
kami.
Berawal
dari sebatang rokok……
Aku
tidak bisa menemukan suasana ini di tempat lain. Aku tidak pernah menemukan
perdebatan ini di tempat lain. Aku tidak akan pernah menemukan persaudaraan
sesempurna ini. Sempurna, indikator kesempurnaan masing-masing orang pasti
berbeda. Sempurna, bahkan hanya untuk membayangkan 10-15 tahun lagi ketika kami
sudah berada di tempat yang berbeda, waktu yang berbeda, dan situasi yang
berbeda, aku merasa tidak mampu. Buatku, itu sempurna.
Berawal
dari sebatang rokok………
Aku
menemukan esensi dari sebuah proses pembelajaran. Setumpuk buku dan 3 sks yang
setiap hari harus kutempuh-pun bahkan tidak bisa menggantikan seberapa
berharganya “mereka” di mataku. Sekedar persepsi, ketika manusia mencari
manfaat dari apa yang manusia itu lakukan, terkadang manusia itu melupakan
esensinya. Esensi, segelintir topik di tengah asap rokok yang terus mengepul malam
ini. Pembicaraan yang tak kunjung sampai pada titik “akhir”.
Berawal
dari sebatang rokok………
Bahkan
dari benda sekecil rokok, benda yang dianggap bisa merusak tubuh manusia,
sebuah benda yang memiliki image negatif di mata segelintir orang……..
Jari-jemarinya lincah memutar dan
memainkan sebuah botol “minuman mahal”, sementara pandangan matanya yang tajam
tetap memperhatikan setiap tamu yang datang. Sesekali ia melihat handphone yang
bergetar disampingnya. Sebuah pesan singkat yang berbunyi, “Mas Rio pulang jam
berapa ?”. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Rasa lelah, lapar, dan
kekhawatirannya terhadap adikknya, Raka, membuatnya ingin segera “menggeber”
CB kesayangannya melaju di jalanan yang gelap.
Sesampainya
di rumah setelah menjadi “pembalap” selama 20 menit, ia melihat adiknya, Raka,
sudah terlelap di kursi ruang tamu. Rio mengangkat dan menggendong Raka,
adiknya, dengan hati-hati dan membawa adik kesayangannya itu ke kamar. Sembari
mengangkat adiknya, ia sesekali mendengar cacing diperut Raka yang kelaparan.
“Seandainya aku lebih cepat 15 menit saja, pasti kami saat ini tengah menyantap
nasi telur yang aku beli di warteg tadi”, sesal Rio. Setelah membawa Raka ke
tempat tidur, ia hanya bisa memakan hasil kerja kerasnya di kafe seharian
dengan ditemani alunan lagu dari radio yang mendayu-dayu yang semakin
mengombang-ambingkan suasana hati Rio.
---------------------
Duduk termenung di bawah sebuah pohon
beringin di halaman SD-nya, Raka memandangi seorang gadis yang tiap pagi turun
dari sebuah Mercedes seri terbaru, gadis yang memiliki nama bak artis dari
Perancis, Sophie, gadis berambut ikal yang selalu mengenakan bando di atas
kepalanya, gadis yang ceria dan memiliki banyak teman, gadis yang wajahnya selalu
ada di buku gambarnya atau di sebuah secarik kertas yang disobek dari buku
matematika, dan gadis yang selalu memegang erat tangannya, mencium keningnya,
dan bersandar dipundaknya, meski hanya di alam mimpi. “Bagaimana caraku
membuatnya agar tertarik padaku sedangkan kami berbeda ? Ya, kami berbeda.
Tidak ada yang sama. Tapi bukankah perbedaan itu harusnya disatukan ? Bukankah
perbedaan itu saling melengkapi ?”. Raka, seorang anak sekolah dasar yang tiap
malam “dicekok-i” sinetron kejar tayang dan ftv sekali tamat ketika ia
mengerjakan PR matematika di depan tv. Miris, memang miris, seperti dua mata
koin yang berbeda di tiap sisinya, Raka bisa lebih cepat memahami permasalah
“orang dewasa” dari pada anak SD pada umumnya, namun pada kenyataanya, itu
bukanlah dunia yang “seharusnya” ia alami. Ya, itu realitanya.
-------------------------
“Barista”, sebuah kata yang selalu
terngiang di dalam kepala Rio semenjak ia bekerja “part-time” di sebuah kafe
hingga saat ini. Membiayai kuliahnya, membiayai sekolah adiknya, menghidupi
dirinya dan adiknya yang merantau jauh dari kampung halamannya di Jogja. Mimpi
? Tentu saja bukan. Seperti halnya Raka dan yang mengagumi Sophie, itu bukan
mimpi, sama sekali bukan. Bagi mereka, mimpi adalah sinetron kejar tayang dan
ftv sekali tamat. Itu adalah harapan, harapan yang membuat mereka, aku, kamu,
dan kita tetap “hidup”, sebuah pemaknaan kehidupan yang sebenarnya. Karena bagi
mereka, dan bagiku, mimpi bukan hanya sekedar “bunga tidur” di malam yang
senyap, bukan juga sebuah dongeng putri dan pangeran dalam cerita Cinderella,
tapi sebuah titik terang di ujung jalan yang sunyi dan gelap, sebuah tujuan
yang suatu saat akan menjadi kenyataan, ya, suatu saat nanti . . . .