Kamis, 12 April 2012

K E S E M P A T A N

Seorang anak kecil yang mengambil uang dari dompet ibunya. Ketika sang ibu mengetahui perbuatan anaknya, ia pun menasehati anaknya dan memaafkan kesalahan anaknya.
Kesempatan……
Seorang siswa sma yang ketauan mencontek, ia di beri hukuman dan di beri nasehat oleh gurunya supaya tidak mengulangi kesalahannya lagi.
Kesempatan……
Buatlah keteledoran, buatlah kesalahan, maka ia akan datang, ia akan datang……
Kesempatan……

Kesempatan……
Ia tidak lagi datang……
Kesempatan……
Aku menunggu, sampai-sampai aku membuat beratus-ratus kesalahan, tapi ia tak kunjung datang……

Kesempatan……
Mulailah hargai arti kedatangannya, karna ia akan bosan ketika harus terus-menerus hadir untuk menutupi kesalahanmu.
Kesempatan……
Ia hanya datang untuk membuatmu berintrospeksi, membuatmu tidak jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya, atau membuatmu tidak membuat lubang-lubang yang baru……



Kesempatan untuk memperbaiki……
kesempatan untuk menjadi lebih baik……



Thank’s for inspiring, “chance” !
-N-

Senin, 09 April 2012

untitled


“de ja vu”
aku pernah ada di posisi yang sedang aku alami sekarang.
posisi dimana “kaki-kaki” ini sulit melangkah (re: bukan berarti mager), posisi dimana tubuh ini semakin susah untuk berdiri tegap, posisi dimana…………
“I’ve got tired, really-really tired”

Lelah dengan rutinitas monoton yang mulai kehilangan esensinya, lelah dengan semua pikiran yang nggak seharusnya nggak dipikirin tapi terlanjur “nglothok neng utekku” (re: mendangkal di otakku).

Sejenak aku ingin kembali…
Kembali ke masa dimana kami duduk di “upyard” sebuah kos seorang anak Boyolali (re: boyolali = widek) dan seorang liverpundlian sejati (re: Omar Adrian Rozak, nb : mar bali maaarrrrr ) sambil berceloteh ria dan menghisap batang demi batang rokok, kembali ke masa duel layangan dengan bapak-bapak kampung sekitar kian sengit, kembali di masa “ten2five dan mocca” berdengung di telinga kami selama berjam-jam, kembali dimana tawa seorang pria berkewarganegaraan ganda itu berdengung di telinga kami, kembali……………

A foolish child and a great single parent


setiap orang hebat, pasti memiliki orang tua yang bijak di belakangnya”

kali ini sosok yang menginspirasi adalah ibu.
Ibunya siapa ? Jelas ibuku ! She's the best single parent and single fighter that i ever know

17 tahun ditinggalkan belahan jiwanya akibat keteledoran sopir *optimus prime (*re: tokoh dalam transformer, wujudnya truk, nah itu maksudnya truk, sopir truk) dan harus membesarkan buah hatinya yang sejak kecil udah *ngganteng (*re: saya, jelas saya, no doubt ! ),mungkin sempat terlintas dipikirannya “udah ah, bunuh diri aja berdua sama ni anak, susah hidup kalo nggak ada suami gueh” , dan untung ibuku bukan orang yang berpikiran sependek itu, UNTUNG !

Singkat cerita, selama hidup 17 tahun tanpa pasangan hidup hingga saat ini, ia sering kali memperkenalkan “calon bapak baru”, ke aku dan ke eyang putri. Tapi, aku yang pada waktu itu jadi “filter” pertama dalam hubungan ibuku dan “calan bapak baru” selalu nolak, nolak dan nolak. Sampai pada akhirnya mungkin ibuku lelah mencari atau disibukkan dengan pekerjaannya, ia berhenti memunculkan “calon bapak baru” lagi.

It was my fault, i'm so sorry mom !”

Sekitar dua hari yang lalu, aku melontarkan pertanyaan yang mungkin bisa dianngap sebagai “pertanyaan bodoh”

N : “Buk, sebenarnya, apa sih yang bikin ibuk bertahan sampai 17 tahun hidup tanpa pasangan ?” (bodoh nggak sih?!!)
I: “Sebenarnya, kadang ibu itu ngrasa kesepian,ibu pengen membagi kasih sayang dan beban hidup sama orang yang “klik” sama ibuk.”

It was my fault, i'm so sorry mom, forgive me mom !”


Serangan telak dengan damage “one hit kill” dan menyebabkan efek rasa bersalah yang berkepanjangan....

Nggak adil men !
Anaknya boleh pacaran, masak orang tuanya nggak boleh ??!!

(Anak macam apa kamu NAN ?!!)

Segelintir penyesalan di tulisanku kali ini, dan sebuah pesan buat Caecilia Haniek Sri Pratini :

Bu, silahkan cari bapak baru, aku nggak akan nolak, yang penting bisa “mensejahterakan” dan sayang sama kita”


You always be the best in my life”

Thank's for inspiring :)



-N-

Jumat, 06 April 2012

B E L A J A R

Tulisan pertama,

Kaku ? Jelas.

Grogi ? Pasti.

Tapi dua alasan yang nggak masuk akal buat aku untuk menurunkan niatku buat nulis.

Pertama, ini soal kegundahanku waktu awal masa kuliah ini. Kedua, nggak ada yang kedua, karena ini tulisan pertamaku. Yak, kembali ke benang merah, aku gundah, agak mepet ke galau, tapi ya nggak galau-galau banget.

Kuliah ? Berangkat siang pulang malam, rutinitas yang buat aku “monoton”. Akademis, social life, organisasi, mau nggak mau harus akrab sama paling enggak 3 hal ini. Dan realitasnya, di ketiga kegiatan ini, sayangnya, aku nggak menemukan apa yang ingin aku dapatkan. Apa itu ? “Perkembangan”. Apanya yang berkembang ? Cara berpikir, itu yang sama sekali belum aku dapatkan selama 8 bulan aku duduk di bangku kuliah.

Pada akhirnya, aku akan kembali ke “kolam” lama ku. Dimana ? Teman SMA . Buatku, jalinan pertemanan yang berjalan selama 3 tahun itu adalah yang paling “spesial” . Aku berkembang. Jelas ! Dari pada keluyuran ala anak kuliahan seperti ke mall, nongkrong di spot-spot kampus, menghabiskan waktu dengan teman-teman SMA membuat aku lebih banyak “belajar” . Buatku, belajar nggak harus duduk diam selama 3 sks di dalam kelas atau membuka buku pelajaran yang ukurannya tebal. Duduk, menghisap rokok, minum kopi, sembari mengobrol dengan teman-teman SMA di sebuah burjonan buatku itu yang disebut “belajar”. Diskusi panjang tentang orang tua yang otoriter, gebetan yang susah didapetin, dan apapun lah yang kami alami dan kami rasakan secara nggak langsung membuka pikiranku tentang berbagai macam persepsi orang-orang tentang bagaimana menghadapi masalah-masalah yang ada.

Nggak dipungkiri juga sih, teman-teman SMA-ku memiliki berbagai macam cara pandang yang unik, menarik, dan itu yang bikin mereka paling spesial. Spesial, ya, mereka membuat aku makin banyak belajar, belajar untuk berpikir dari sudut pandang yang berbeda. Bukan berarti aku menutup diri dari pergaulan di luar mereka, akan tetapi, memang belum ada yang membuat aku lebih banyak belajar dari mereka.

Mungkin ini saatnya buat aku, keluar dari kenyamanan itu, dan membentuk kenyamanan baru di tempat lain. Membuktikan bahwa aku layak untuk diperhitungkan.

“Seorang manusia sehebat apapun tidak akan pernah berhenti belajar” – anonim

Semua tentang mereka.

aku, sahabatku, dan De Britto.


Thank’s for inspring.


-N-