Kamis, 06 Maret 2014

3:16

Aku ingin pergi. Pergi menjelajah pikiran, meruntuhkan teori ruang dan waktu. Tak hanya menelanjang prediksi, ataupun merangkai asumsi

Kamis, 24 Oktober 2013

20 years old dreamwalker’s



“Jadi anak-anak, setiap tugas yang sudah di kerjakan harus bertanda tangan ayah kalian masing-masing ya”, Lusia, Guru SD Kanisius Demangan Baru, 2001.

“Bapak itu udah di surga dek, jadi minta tanda tangan om handung aja ya”, Haniek, Singleparents, 2001

“Sama om martinus aja, kan kemarin udah sempet sepakbola bareng”, Tanti, single, 2003

“Besok ayah kalian dikasih undangan ini untuk penerimaan ijazah kalian”, Sri Suparti, Guru SD Kanisius Demangan Baru, 2005

“Ini kita mau ke makamnya siapa buk? Kok ibuk nangis?”, Dhana, 2006

“Pas liburan kita mindah makamnya bapak ya”, Haniek, Singleparents, 2012

“Besok pulangnya jangan kesorean, udah lama kan nggak ke gereja bareng sama ibu sama tante”, Haniek, Singleparents, 2012

“Kuwi wong’e sugih lho dik, anakke yo gur siji, kok yo tetep ra gelem to le”, Sukapjan, 71 tahun, 2012

“Kamu udah kenal sama temen sma nya ibuk belum to ? Kemarin ketemu waktu reuni sma”, Haniek, Almost Engaged, 2013

“Besok liburan ke jakarta ya, kita liburan ke pulau Seribu sama angel-cynthia”, Haniek, H-5 bulan, 2013

“Dengan ini kalian telah resmi sebagai sepasang suami istri”, Romo Paroki Pringwulung, Oktober 2013

“Kok akhirnya kamu mau ?”, Prapti, Hari H, 2013

-       Bahkan seorang wanita terkuat di dunia pun butuh tempat bersandar dan berlindung – Nandi, 20 tahun, Kakak tertua


PS: Welcoming a new family

Minggu, 30 Juni 2013

1563

Menunggu itu membosankan
Aku ingin dokter segera memeriksa penyakitku,
Aku ingin tahu hasil diagnosa dokter
Aku ingin segera lepas dari penderitaan tiada akhir
Suster bilang:
“ambil nomor tunggu dulu mas, silahkan duduk dulu”

1563

Aku keburu mati

Senin, 22 April 2013

Pertaruhan


Seseorang mengejar mimpi mereka dan mempertaruhkan hidupnya
Seseorang yang lain mempertaruhkan impian dan hidupnya demi cintanya
Seseorang yang lain lagi mempertaruhkan cintanya demi orang lain yang lebih ia cintai
Aku
tak berani mempertaruhkan apapun
bukan manusiakah aku ?

Kamis, 03 Januari 2013

menikam ketakutan

melihat tetes embun pagi ini, tak seperti biasanya
tiap tetesnya seperti waktu mundur bagiku

waktu tak bisa dihentikan
waktu tak bisa dihindari
haruskah aku menjadi seorang pembunuh,
pembunuh waktu ?

manusia sepertiku tak cukup kuat untuk membunuh keabadian sang waktu
bahkan untuk menahannya pun, aku takkan mampu
namun ia terus mengejar dan aku tak kuasa untuk berlari

jadi
ia tak bisa dibunuh
lalu apa yang harus kubunuh ?
hidupku tak tenang !

gemercik embun membasahi wajahku
ia turun dari dedaunan hijau, tepat diatas kepalaku

aku tersadar
yang harusnya kubunuh bukanlah waktu
ia hanya kambing hitam penguasa ketakutan

aku bersiap
bersamaan dengan menyingsinya sang fajar
aku menikam sang penguasa ketakutan
ia hanya melihatku dan berkata, "mengapa kau bunuh aku ? aku sahabatmu.."
nadanya mulai meninggi, "AKU SELALU MELINDUNGIMU DARI SANG WAKTU TAPI APA BALASANNYA....."
dan kemudian 
menghilang...




(05.00)

Jumat, 19 Oktober 2012

Ibu


            Suatu ketika ada seorang anak yatim bertanya pada ibunya di suatu sore, “bu, ayah itu apa ?”. Sang ibu hanya diam, menyedu segelas tehnya, dan menjawab pertanyaan anaknya, “anakku, ketahuilah, ibu adalah ayah”. Jawaban ibunya membuat anak itu memutar otaknya yang baru berusia 5 tahun. “Maksudnya apa bu ? Jadi ayah adalah ibu ?”, tanya sang anak dalam sebuah kebingungan. “Bukan anakku, ibu adalah ayah, tapi ayah bukanlah ibu”.

            14 tahun setelah perbincangan mereka, sang anak kembali menemui ibunya. Di tempat yang sama, dengan aroma teh yang masih pekat, tak berbeda. “Ibu, terima kasih sudah bekerja keras selama ini, ibu adalah ayah yang sempurna untukku, sekarang, ibu beristirahatlah, biarkanlah aku yang mencoba memainkan peran yang selama ini telah ibu perankan dengan sempurna”.
            Sebuah senyum mengembang di mulut sang ibu, sesaat sebelum kotak kayu itu ditutup.
           
Terima kasih Ibu.

Jumat, 21 September 2012

tanda


Angin malam ini terasa asing
dinginnya tak seperti biasanya
membawa kesejukkan
sekaligus menusuk menyakitkan

            Tak sekedar angin
            balada sang harmoni pun seperti bersekutu dengannya
            memberikan sebuah ketenangan
            namun menyiratkan sebuah kepiluan
            melankolis..

Selasa, 14 Agustus 2012

Sajak di Tepi Semenanjung


terdiam sejenak
sekejap aku merasakan hembusan angin pagi di tepi pantai
secerca cahaya dan hembusan udara hangat menembus ari
Bathara Surya
pemberi hangat sang semesta
penyegar semangat abadi

termenung aku di tepi pancarnya
membeku aku dalam hangat yang bisu
siapa aku
terlalu kecil untuk menerawang apa mau sang surya
terlalu lemah untuk menyelidiki rencana besarnya

aku kembali terdiam
terdiam dalam dinginnya sang Naara
tergerus ombak…

Rabu, 11 Juli 2012

Find a balance


Keseimbangan adalah sebuah visi, mendekati, tapi takkan tercapai” – asumsi
0.55
Seperti biasa, malam ini adalah malam minggu, maksudku, bagiku setiap hari adalah malam minggu, selama liburan, hanya selama liburan.
Malam minggu, identik dengan “bermain di luar rumah” atau bagi yang sudah berpasang-pasangan terkenal dengan “NGAPEL” atau dalam Javanesse Language “MBOJO”, tapi tidak dengan “malam minggu”-ku kali ini.
Berbeda.
Aku dirumah, menghabiskan dengan seorang wanita lanjut usia dan seorang wanita paruh baya.
Ibu dan nenenkku.
Tidak dengan “saudaraku” atau “kekasihku”

Mungkin bagi orang yang belum mengenalku, kutipan situasi di atas merupakan hal yang biasa saja, bahkan sangat biasa saja.
Namun, bagi ku, menghabiskan waktu dirumah merupakan hal yang tidak biasa, luar biasa.
“Hyperbola” !
Tidak. Karena memang begini keadaannya.

Biasanya,
Malam hari adalah waktu “belajar”-ku. Belajar tidak selalu di depan buku setepal 186 halaman. Belajar, esensinya, aku mendapat hal baru,mempelajari hal baru, atau memaknai hal baru. Baru. Baru aku ketahui, atau memang, baru. Belajar dari siapapun, kapanpun, dimanapun, dan dalam situasi apapun.

Luar biasanya,
Semenjak kepulanganku dari rumah Claudius (Barly), aku tak lagi menampakkan batang hidungku di luar rumah. Tidak seperti biasanya, malam ini aku tak berkunjung ke PK (Palm Kuning, Burjo) atau bertandang ke rumah Aditya (Murti). Bahkan aku membatalkan janjiku bernostalgia bersama Gorginia (Cikita).


Aku ingin hidupku, kali ini, hari ini, mendekati ke level yang seimbangan.
Ada kalanya aku harus dirumah, membuka perbincangan antar generasi dengan nenenkku, atau menginput petuah bijak karya ibuku.
Ya.
Kami saling membutuhkan, seperti aku dan kalian,aku dan kamu
aku dan
DIA
-n-

Senin, 02 Juli 2012

Beautiful Life


Manusia selalu ingin tahu, tanpa ia tahu sampai dimana batas ke-tahu-annya – asumsi
Aku, kamu, kita, mereka
Tidak ada yang tahu sampai dimana batas keingintahuan kita, ataupun batas ke-tahu-an pikiran kita
Aku, kamu, kita, mereka
Ingin memahami isi dunia ini, ingin mengerti isi dunia ini,
ingin memahami satu sama lain, ingin mengerti satu sama lain, dan
diri sendiri
akupun begitu

aku tak mungkin menjadi kamu, kamu tak mungkin menjadi aku
terlalu tamak rasanya ketika aku ingin mengerti seluruh isi dunia
dunia punya misteri, dan misteri itu akan dibuka sejalan dengan kehidupan manusia
sama hal-nya dengan kamu, aku, kita, mereka

biarkanlah itu berjalan seperti apa yang direncanakan oleh semesta
aku akan mengerti, kamu akan tahu
tanpa kita harus bersikeras untuk
mengerti, mencari tahu

hey, dunia ini terlalu indah untuk dimengerti seluruhnya
sama seperti kamu :)
World have the own way to tell us, just walk and look around us

this my own way to write, and my own way to look this world
cheers :)

Rabu, 13 Juni 2012

waktu


Tengoklah ke belakang
Aku tak mampu untuk terus melihat ke depan
Masa depan yang masih mengambang
Dalam ketidakpastian

Haruskah aku terus melihat masa lalu
Menyenangkan
Memang
Duduk di bawah beringin rindang ditemani
Patung “Kemayoran”
Melaju di jalanan saat Adzan Maghrib berkumandang
Obrolan hangat dan kepulan asap tembakau menemani rembulan
Yang temaram
Ahh….
Terlalu indah untuk dikenangkan

Sekarang
Kata seorang saudara seperjuangan
Setiap hari punya masalahnya masing-masing
Tenang


-N-

Senin, 04 Juni 2012

"minoritas" yang bersuara, refleksi Spiral of Silence


“minoritas yang bungkam”-anonim
Berangkat dari sebuah refleksi mengenai Spiral of Silence Theory atau Teori Spiral Keheningan, aku tidak akan bungkam, atau pura-pura bungkam
“….kaum minoritas terkadang tidak mau atau tidak berani bersuara karena takut dikucilkan oleh sang mayoritas”-penjelasan singkat dosen teori komunikasi
Tersenyum, menggelengkan kepala
Reaksi awalku pada waktu itu
Haruskah aku, kami, kita, mereka, bungkam ?
Haruskah aku, kami, kita, mereka, diam dalam ketertindasan ?

Jawaban, TIDAK !

Tindakan, TIDAK ?

Lalu apa yang ditakutkan ?
Pengucilan ?
Ancaman ?
Ter-intimidasi ?
Kekerasan fisik ?

Kebanyakan,
dan pada kenyataannya, iya

Buatku,
akan lebih menyedihkan bila harus hidup dalam kepura-puraan arus mayor,
dan akan lebih melegakan ketika harus “mati” dalam kesejatian sebuah idealisme.

Abstrak
aku-pun terkadang tidak tahu apa yang aku bicarakan
hahaha

“ketika ada 9 orang gila dan 1 orang waras, maka 1 orang waras itu-lah yang akan dianggap sebagai orang gila” – anonim

maukah seseorang dianggap sebagai orang gila ?

Idealnya,
AKU MAU !

Realitanya ?

Aku hanya menghanyut dalam arus mayoritas, kalau mau di bilang pembelaan, silahkan
hahaha

Nyatanya,
Aku hanyut, namun tetap mendayung,
sedikit demi sedikit, mencoba mengajak orang lain ikut mendayung
dengan dayung idealisme  mereka

Apa salahnya mencoba ?

Subyektif

Mari ber-refleksi
-N-

Rabu, 30 Mei 2012

Pendidikan, sebuah refleksi


“hasil yang maksimal adalah hasil dari sebuah usaha yang dilakukan tanpa keterpaksaan” – anonim
Tergerak dari obrolanku dengan seorang teman di balkon kampus dan obrolan di bangku SMA dengan seorang calon filsuf, aku merasa harus mengungkapkan sesuatu, sesuatu yang miris, prihatin.
Kesadaran, dorongan dari dalam, atau apapun itu sebutannya, masihkah manusia memiliki itu ? Atau, kesadaran itu sudah memudar dari dalam diri manusia ?
“Pendidikan, sebuah sistem penggerak bagi manusia guna menciptakan manusia-manusia yang berpendidikan. Penuh paksaan, penuh tekanan, guna mendapatkan hasil yang cenderung, instan”. – persepsi pribadi
Bukan apa-apa, subyektif, dunia ini membutuhkan manusia-manusia yang “cerdas”, tidak melulu “pintar”.
Lalu, dimanakah keingin-tahuan itu ? Sebuah kata yang seharusnya menjadi gairah dan esensi dari sebuah pendidikan yang sebenarnya. Berangkat dari keingin-tahuan, maka muncul-lah kesadaran dan dorongan dari dalam guna memperoleh ilmu pengetahuan, tanpa adanya sistem yang harus membatasi ruang pemikiran manusia.

Positif thinking

“Pendidikan adalah sistem yang bertujuan untuk men-stimulus rasa keingin-tahuan manusia terhadap segala macam pengetahuan”

Membangun kesadaran akan keingin-tahuan, atau tetap terdikte dengan sistem tanpa mau melihat keluar

Mari ber-refleksi
-N-
15.28